Chinese Room

Apakah mesin mempunyai kecerdasan?
Pertanyaan itu dijawab dan di rumuskan oleh Alan Turing pada tahun 1950-an. Alan Turing adalah seorang matematikawan yang terkenal karena berhasil memecahkan kode rahasia Jerman dalam Perang Dunia II.
Alan Turing membuat sebuah percobaan yang dinamakan Turing test, yang mana secara mendasar, percobaan masih menimbulkan kesangsian manusiawi.

Sebuah komputer melalui terminalnya ditempatkan pada jarak jauh. Pada salah satu ujung, ada terminal dengan software AI dan di ujung lain ada sebuah terminal dengan seorang operator . Operator tidak mengetahui kalau di ujung terminal lain dipasang software AI. Mereka melakukan hubungan dan operator mengira bahwa ia sedang berhubungan dengan operator lainnya pada terminal yang terletak di ujung lain. Apakah dengan demikian komputer bisa dikatakan pintar?
Jadi, Apakah mesin atau komputer dapat berpikir?



jika melihat perkembangan teknologi komputer dan pemograman secara tentatif bisa dibilang bahwa komputer itu telah dapat berpikir, seperti program catur misalnya. Tapi dapatkah ia mensimulasikan sebuah kesadaran bahwa ia adalah sebagai subjek atau individu seperti manusia? Inilah problem yang tampaknya masih belum terselesaikan dalam diskursus AI.

Lalu Problem AI dan kaitannya dengan kesadaran dibahas oleh John R. Searle dalam bukunya The Mystery of Consciousness (1997) dan artikelnya yang berjudul Minds, Brains, and Programs (1980). John Searle melihat bahwa mesin memang dalam arti tertentu mempunyai kecerdasan. Tapi ia melihat bahwa mesin hanya memilikinya secara partikular dan fungsional (Weak AI). Mesin menurutnya tidak dapat mempunyai kesadaran sebagai subjek seperti manusia (Strong AI). Ia menjelaskan hal ini lewat argumen yang dikenal dengan Chinese Room Argument.

Chinese Room Argument merupakan sebuah argumen yang menjelaskan tentang fenomena ketika kita tidak lagi mengetahui secara programatis perbedaan antara mesin dan manusia.

Anggaplah anda hanya bisa berbicara bahasa indonesia. Kemudian, anda berada di satu ruangan terisolasi dan harus menerjemahkan bahasa Cina ke dalam huruf cina yang lain. Dengan kaidah dan prosedur penerjemahan yang sudah diberikan kepada anda, anda mulai mengerjakan penerjemahan dan hasilny dikirimkan ke luar.
Inputnya mungkin berupa pertanyaan dan ouputnya merupakan jawaban. Apakah dengan keberhasilan menerjemahkan, anda sudah bisa dikatakan seorang inteligensia, seorang yang pintar?
Sebaliknya, jika tidak berhasil karena tidak bisa mengikuti kaidah dan prosedur yang sudah ditentukan, apakah anda dikatakan tidak atau kurang pintar, kurang inteligen? Tentu hasil ini masih bisa dipertanyakan.

Selanjutnya, walaupun sudah bisa memberikan jawaban yang benar, apakah anda sudah bisa dikatakan benar-benar mengerti bahasa cina? Tidak, sekalipun anda sudah berhasil mengerjakan sesuatu yang sangat berguna. Demikian pula, komputer yang bekerja dengan aplikasi AI menerjemahkan simbol-simbol pada output yang tepat menurut kaidah dan prosedur yang sudah dirancang.

Bila manusia dikonstitusikan dengan komputer dalam kaitannya dengan fenomena Chinese Room Argument, akan kita temukan kesamaan antara mesin dan manusia, yaitu ia sama-sama sebuah program atau bagian dari program itu sendiri. Namun bila kita telaah lagi akan kita temukan secara tentatif sebuah perbedaan.

Dengan merujuk argumen di atas kita pahami bahwa manusia dan mesin sebagai sebuah program memahami sebatas bentuk, bukan makna. Menurut John Searle dalam bukunya The Mystery of Consciousness, lewat Chinese Room Argument dapat diproposisikan bahwa
“semantik tidak intrinsik berada pada syntax, sehingga syntax tidak bersifat intrinsik terhadap bentuk fisik”. (John Searle, 1997: 17).


Dari sini kita pahami bahwa makna sebuah kata dalam beberapa hal adalah misteri. Karena sebuah komputer atau program dapat memahami bentuk (sintaksis) dan menjawab dengan bentuk, seolah-olah ia memahami maknanya (semantik). Sama seperti seseorang yang berada dalam kamar yang tidak mengerti tulisan China, namun lewat sebuah program ia seakan-akan dapat mengerti

Argumen John Searle memang telah memberikan penjelasan tentang fenomena robot atau super komputer yang dapat berpikir. Ia kemudian melanjutkan argumennya tentang bagaimana proses mengerti pada mesin dan manusia dapat dipahami. Apakah mesin dapat mengerti sebagaimana manusia mengerti?
Karena kita sebagai manusia dapat mengerti dalam arti verstehen seperti dalam filsafat Kant.

Pertanyaan kemudian dapat diajukan di sini: apakah pintu otomatis yang terbuka karena sinyal fotoelektrik dapat dikategorikan mengerti ketika kita akan memasukinya? John Searle melihat bahwa mesin seperti pintu otomatis tidak bisa dibilang mengerti seperti manusia mengerti. Ia membuat analogi tentang manusia yang mengerti sebuah bahasa, semisal cerita dalam bahasa Indonesia. Manusia yang mengerti cerita berbahasa Indonesia tidak sama dengan mesin yang mengerti dalam konteks gerak dan bentuk. Tentu ini akhirnya menjadi misteri, karena proses mengerti seperti halnya makna sebuah teks tak dapat dibuktikan. Karena itulah John Searle menolak Strong AI.
Fenomena super-komputer menurutnya adalah hanyalah bagian dari kecerdasan yang bersifat fungsional atau populer dengan istilah Weak AI. (John Searle, 1997:17).


Permasalahan Strong AI memang akhirnya terletak pada masalah yang dalam filsafat dikenal sebagai hermeneutika.

Hermeneutika adalah ilmu yang mengkaji tentang bagaimana manusia memahami sebuah teks. Pemikiran John Searle tentang apakah mesin mengerti seperti halnya manusia mengerti adalah contoh problem hermeneutis. Roger Schank, ahli komputer dan ilmu kognitif, melihat bahwa mesin bisa mengerti seperti halnya manusia. Karena menurutnya tujuan sebuah program dibuat adalah mensimulasi kemampuan manusia untuk mengerti sebuah cerita. Secara literal dapat dikatakan bahwa mesin secara programatis dapat meniru manusia, namun seperti kita ketahui pendapat Schank disangkal oleh John Searle.

Ketidak mungkinan terciptanya Strong AI lewat Chinese Room Argument menjelaskan bahwa robot atau mesin pintar yang mempunyai pikiran dan kesadaran seperti manusia hanya berada dalam sebuah fiksi. Bahkan sekarang pikiran dalam beberapa hal tidak lagi menjadi unsur konstitutif dari kecerdasan, filsafat misalnya tidak lagi mempunyai kecederungan untuk melihat pikiran (cogito) sebagai kajian utamanya. Berakhirnya epistemologi dan kemudian tergantikan dengan hermeneutika diproposisikan oleh Richard Rorty, keutamaan tubuh dibandingkan dengan pikiran dalam memahami dunia dirumuskan dalam filsafat teknologi Don Ihde.




Artikel yang berhubungan




1 comments:

Nafi Projo said...

Haduuhh, tidak mudeng saya

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...